Rabu, 26 September 2012

WHY HANDSOME MAN LOOK UGLY?



DALAM pandangan awam, politik selalu identik dengan hal-hal yang negatif. Politik dipandang sebagai sesuatu hal yang kejam dan jahat. Akan tetapi jika kita mau serius mempelajari apa sebenarnya politik itu, tentu kita akan lebih memahami bahwa politik bukan sesuatu yang jahat. Justru dia sangat dibutuhkan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Banyak orang yang berpandangan sinis terhadap politik dan dengan mentah-mentah mendeklarasikan dirinya sebagai orang yang tak mau berpolitik karena dunia politik itu dunia yang kejam dan diisi oleh para bandit-bandit. Pandangan seperti itu juga termuat dalam lirik lagu Iwan Fals; “dunia politik adalah dunia para binatang”. Akan tetapi, sebenarnya semua manusia itu pada dasarnya adalah makhluk politik. Ketika seseorang menyatakan sikap bahwa dirinya tidak mau berpolitik, maka sikap “tidak mau berpolitik” tersebut adalah sikap politiknya (Firmanzah: 2008). Dengan kata lain, ketika anda memutuskan untuk tidak mau berpolitik maka itu adalah sikap politik yang anda pilih atau tempuh. Semua manusia adalah bagian dari politik. Lalu kenapa politik dianggap sebagai sesuatu yang kurang baik, kalau tidak mau dikatakan sangat buruk?

Untuk menjawab pertanyaan ini sebelumnya kita perlu mengupas beberapa variabel seperti definisi politik secara harfiah, pandangan awam, dan apa yang menyebabkan politik mengalami pemburukan makna.
Sebenarnya salah besar apabila kita mengartikan politik sebagai sesuatu yang buruk. Akan tetapi hal yang masuk akal apabila kita menganggap orang-orang yang ada dalam ranah politik sebagai orang-orang yang jahat atau berperilaku buruk, walaupun tidak semuanya begitu.

Kita bisa mengambil contoh misalnya seperti kayu diciptakan Tuhan di dunia ini. Lalu oleh manusia kayu tersebut diolah menjadi sesuatu yang berguna seperti meja, kursi, papan tulis, lemari dan sebagainya. Maka hasil yang diperoleh dari ciptaan Tuhan tersebut akan berguna bagi manusia. Lalu ketika sebaliknya, saat kayu tersebut digunakan untuk hal-hal yang tidak baik semisal untuk memukul orang, membunuh, menyiksa dan macam bentuk perilaku keji lainnya, maka kayu tersebut telah dipakai untuk merugikan manusia sendiri. Lalu kita bertanya, apakah kayu yang salah? Apakah Tuhan yang salah karena telah menciptakan kayu? Tentu jawaban dari kedua pertanyaan tersebut adalah “tidak”, dan kita harus menjawa “iya” untuk pertanyaan “apakah manusia yang salah?”

Manusialah yang telah menyalahgunakan kayu tersebut. Kayu adalah benda mati, dia tak bisa disalahkan. Demikian pula halnya dengan Tuhan, kayu diciptakan oleh-NYA agar digunakan manusia untuk hal-hal yang baik karena Tuhan sendiri adalah sumber kebaikan. Demikian pula halnya dengan politik. Politik adalah cara untuk mencapai kehidupan yang baik (Budiardjo : 2008). Politik ada sebagai mekanisme untuk menjalankan roda negara agar berjalan lancar.

Menurut John Locke, salah satu asas terbentuknya negara adalah pactum unionis (perjanjian antara individu-individu untuk membentuk negara). Tentu kesepakatan untuk membentuk negara memiliki tujuan-tujuan tertentu yang dibuat dan dihasilkan dari kesepakatan individu-individu tersebut. Di sinilah politik memainkan peranannya. Politik adalah aktifitas untuk mengatur negara. Negara diatur agar dapat berdiri dan berjalan dengan baik untuk mencapai cita-cita bangsa dan negara. Apabila negara dalam keadaan kacau, seperti misalnya terjadi gejolak politik yang berimbas pada terjadinya krisis ekonomi, atau sebaliknya, di mana krisis ekonomi juga mempengaruhi stabilitas politik, maka cita-cita atau tujuan-tujuan negara akan sulit dicapai. Karena negara sebagai sebuah sistem yang di dalamnya terdiri dari berbagai sub-sistem, diperlukan suatu mekanisme untuk menjalankan sub-sistem tersebut agar berjalan tetap pada koridornya dan memproteksinya diri dari kemungkinan terjadinya trouble of system.

Untuk itu, menurut Samuel Huntington, diperlukan adanya tertib politik dalam negara. Selain itu, negara dalam pandangan Thomas Hobbes perlu ada dan bertujuan untuk menghindari terjadinya homo homini lopus (manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya). Manusia dapat saja saling memberangus sesamanya untuk mencapai kepentingan-kepentingan tertentu. Oleh karena itu, diperlukan peraturan-peraturan (konstitusi) agar terciptanya ketertiban di level masyarakat dan elit negara. Dan peraturan tersebut hanya dapat berjalan semestinya apabila adanya instrumen yang kuat untuk menegakkannya. Instrumen tersebut adalah negara.

Akan tetapi pada kenyataannya, politik sebagai mekanisme untuk menjalankan roda negara kerap melenceng dari konsep atau seperti apa ia seharusnya berlaku. Mekanisme tersebut dibuat cacat oleh individu atau golongan tertentu untuk mencapai kepentingan-kepentingan mereka yang sangat bias dari tujuan terselenggaranya negara, yaitu mencapai kesejahteraan bangsa. Bentuk-bentuk dari kejahatan politik, yang membuat masyarakat menganggap politik itu kejam dan buruk, misalnya seperti kesewenang-wenangan dalam menjalankan kekuasaan. Menyalahgunakan jabatan sebagai penguasa untuk memperkaya diri dari mengeruk uang negara adalah salah satu bentuk dari kesewenang-wenangan dalam menjalankan kekuasaan.
Kemudian, menurut pandangan Thomas Hobbes, seperti yang telah disebutkan di atas, negara harus ada agar tidak munculnya kejahatan untuk memberangus manusia yang dilakukan oleh kelompok manusia lainnya. Tetapi pada kenyataannya, negara belum tentu mampu mencegah terjadinya homo homini lopus seperti yang diungkapkan Thomas Hobbes. Malahan, menurut saya, negara sendiri dapat menjadi pelaku atas berlangsungnya homo homini lopus tersebut. Negara bisa saja tak ubahnya seperti harimau kelaparan yang memangsa warga negaranya sendiri. Kekejaman negara yang seperti itu berlangsung di mana kekuasaan negara dipegang oleh seorang diktator. 
     
Dalam konteks Indonesia, kekuasaan pernah pula dipegang oleh seorang tangan besi, yaitu Soeharto. Selama era Orde Baru, partisipasi politik masyarakat sangat dibatasi dengan upaya-upaya “penghadangan” yang dilakukan negara. Politik era Orde Baru (Orba) sangat jelas memperlihatkan kepada kita bahwa kebebasan masyarakat dalam ruang politik sangat kecil dan membuat politik hanya menjadi urusan para elit-elit politik semata. Masyarakat sengaja dijauhkan dari politik melalui berbagai regulasi-regulasi yang dibuat pemerintah. Masyarakat yang tidak mempunyai ruang untuk melakukan kontrol atas pemerintahan membuat mereka marah. Di samping itu, karena kontrol masyarakat atas negara sangat lemah, maka terjadilah penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan oleh para pelaku politik atau aparatur negara seperti maraknya korupsi, kolusi dan nepotisme. Selain itu para elit politik juga kerap melakukan represi-represi kepada mereka yang membangkang, bahkan bisa saja para pembangkang tersebut akan meregang nyawa. “Bukankah pada zaman Orde Baru bicara politik –apalagi membahas sejarah versi Orba–bisa membuat orang yang bersangkutan tidak lagi bisa pulang ke rumahnya?” demikian kata  Soebandrio (seorang yang sangat dekat dengan Soekarno dan yang juga sempat ditahan oleh Soeharto ketia Soekarno lengser) dalam bukunya Kesaksianku Tentang G30S.

Masyarakat yang kemarahannya terus menuncak karena kesewenang-wenangan elit politik dan kekejaman  penguasa lalu melakukan resistensi terhadap negara. Sementara di lain pihak, negara justru merespon resistensi tersebut dengan upaya-upaya represi terhadap para pelaku demonstrasi. Bahkan dari pihak yang melakukan resistensi, tak jarang beberapa dari mereka yang pulang tinggal nama atau bisa saja tak tau jasadnya di mana. Perilaku buruk para elit politik dalam menjalankan negara itulah yang menjadi salah satu penyabab munculnya stigma negatif terhadap politik. Politik yang seharusnya ada dan bertujuan untuk terciptanya kebaikan dalam kehidupan manusia menjadi tak ubahnya seperti gurun gersang yang dihuni oleh binatang-binatang buas di mana mereka akan saling membunuh untuk mendapatkan makanan agar dapat bertahan hidup. Politik menjadi sesuatu yang mengerikan dan seperti lapangan tempat berkumpul para kanibal akibat ulah orang-orang yang menjalankan politik tanpa mengedepankan etika.

Perilaku para pelaku politik sendirilah yang membuat politik mendapat cap yang buruk. Terlebih ketika era Orba, masyarakat ibarat harus menyeberang jembatan yang di tengahnya ada seekor singa yang sedang lapar sementara di bawahnya mengalir lahar panas untuk mencapai partisipasi politik. Jika maju akan dimangsa, jika tetap berdiri di sana maka akan terbakar perlahan-lahan. Itulah yang dilakukan rezim Orba; memaksa masyarakat mundur dari jembatan tersebut dan melarang mereka menyeberang. Kalau ada yang keras kepala maka akan mati. Akan tetapi, pada Mei 1998 sudah terbukti bahwa resistensi yang dibalas dengan represi justru akan membuat semangat resistensi semakin berkobar.

Atas dasar kenyataan tersebebut, maka tak patutlah kita menganggap politik adalah sesuatu yang buruk. Politik diciptakan bukan untuk menebar keburukan, kejahatan atau malapetaka, tapi politik ada untuk membuat kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi baik atau lebih baik sesuai dengan tujuan dan cita-cita bersama. Ketika cita-cita atau tujuan tersebut tidak bisa dicapai, maka politik yang dijalankan oleh masyarakat dan terepresentasikan dalam sebuah organisasi besar bernama negara, harus dievaluasi. Jika hasil dari evaluasi ternyata didapat bahwa yang menyebabkan terjadinya trouble atau constrain untuk mencapai tujuan atau cita-cita tersebut adalah adanya penyimpangan yang dilakukan oleh pelaku penyelenggara negara, maka pelaku penyimpangan tersebutlah yang harus mendapat punishment. Sementara memberikan punishment pada politik adalah suatu hal yang lucu dan kelihatan sangat bodoh karena tak menyelesaikan masalah. Politik harus diperbaiki, bukan justru dijauhi atau bahkan malah berpikir bagaimana memusnahkan politik.    
       
Ibarat anda mempunyai sebuah rumah di pinggir jalan, dan rumah itu anda dirikan untuk tujuan yang baik, yakni sebagai tempat berteduh atau membesarkan anak-anak anda. Lalu kemudian anak anda yang nakal mengotori rumah dengan mencoret-coret dinding. Melihat kejadian tersebut, apa yang anda akan lakukan? Ikut mencoret dinding agar semakin kotor? Menasehati anak anda agar tak mencoret lagi? Memotong tangan anak anda? Membiarkan saja karena tak mau ikut campur? Tentu anda harus mengambil sebuah keputusan yang bijaksana. Ikut mencoret dinding tak akan menyelesaikan masalah begitu pula halnya dengan memotong tangan anak anda dengan tujuan agar tak bisa memegang pensil lagi. Hal yang demikian, alih-alih menyelesaikan masalah, justru menambah masalah baru. Demikian pula dengan politik, ikut andil dalam kejahatan politik akan membuat semua bertambah runyam dan buruk. Membangun sikap cuek atau apatis terhadap politik juga tak akan menyelesaikan masalah.

Anda harus berfikir, menganalisa, dan memberikan solusi untuk pemecahan segenap persoalan-persoalan yang menyangkut dengan masalah politik. Terlebih lagi jika anda memang seorang yang sedang mempelajari Ilmu Politik, tentu sikap apatis dalam mengamati persoalan politik adalah sesuatu yang sangat bodoh bagi anda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar